Jumat, 11 November 2011

Badak Sumbu (Badak Sumatera)

Badak Kerbau atau juga dikenali sebagai Badak Sumbu Sumatra atau Sumatran Rhinoceros ialah spesies badak yang terkecil di dunia serta merupakan salah satu hewan yang dilindungi. Hewan jenis ini terdapat di kaki gunung Himalaya hingga ke MyanmarThailandIndonesia, dan MalaysiaPara ilmuwan memperkirakan bahwa jenis ini mungkin merupakan nenek moyang semua jenis badak lain di dunia. 

Badak Sumatra atau biasa juga disebut Badak Kerbau adalah hewan mamalia yang biasanya hidup sendirian dalam habitat yang lembab dan teduh. Hewan herbivora ini memakan pucuk dan daun-daun muda tertentu. Badak ini sering berkubang untuk menyejukkan badan, menghindarkan diri dari penyakit. Namun jika badak kerbau ini terlalu lama di bawah cahaya matahari, kulitnya akan menipis dan matanya akan rusak.
Hewan ini memiliki beberapa ciri yakni kulitnya berwarna coklat kemerahan di antaranya tertutup rambut panjang (jarang hingga kadang cukup lebat). Selain itu, terdapat kisut di sekitar mata. Panjang cula depan biasanya 25-80 cm, sementara cula belakang biasanya cukup kecil biasanya sekitar 10 cm. 
Pada masa bayi, badak mempunyai rambut penutup yang lebat yang berubah warnanya menjadi coklat kemerahan sewaktu memasuki usia muda dan menjadi jarang. Memasuki usia tua, rambut menjadi kaku dan warnanya hampir hitam. Panjang tubuh badak biasanya antara dua hingga dua setengah meter dan biasanya tingginya antara 1 hingga 1,5 m. Berat seekor badak Sumatera dewasa antara 530 kilogram hingga 750 kilogram. Ketinggian bahunya yakni 1,2 meter. Kulit hewan yang bernama ilmiah Dicerorhinus Sumatrensis ini kasar, tebal, berlipat-lipat dan berwarna kekelabuan. Ketebalan kulitnya antara 5 milimeter hingga 14 milimeter. 
Berbeda dengan badak Jawa, hewan mamalia ini memiliki dua cula. Salah satu culanya sangat kecil sehingga hampir tidak terlihat. Badak ini hanya memiliki satu lipatan kulit, berbeda dengan badak Jawa yang mempunyai tiga lipatan kulit. Biasanya, tanduk badak dan kulitnya menjadi sasaran perburuan. 
Tanduk badak bisa dijadikan obat tradisional untuk mengurangi demam, menyusutkan tumor dan menyembuhkan patah atau retak tulang. Menurut praktisi obat tradisional Cina, sebenarnya tanduk rusa atau tanduk kerbau akan lebih efektif. 
Badak kerbau sudah dinyatakan sebagai hewan paling terancam punah bersama 12 hewan lainnya olehInternational Conservation of Nature and Natural Resources. Selain itu, dalam The Asian Rhino Specialist Group Conference 1987, subspesies Harrisoni (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) yang hanya terdapat di Borneo dinyatakan sebagai sub spesies paling terancam. Pasalnya hanya terdapat 30 hingga 50 ekor badak sub spesies di pantai timur Sabah.
Di Taman Nasional Kerinci Seblat, populasi badak diperkirakan mencapai 300 ekor pada 1970-an dan pada awal 1990-an hanya tersisa beberapa ekor saja. 
Sekarang badak dilindungi oleh jagawana khusus yang melakukan patroli terus menerus. Namun untuk mengembalikan populasinya diperlukan waktu beberapa abad. 


Sumber: Dedi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar